Ada alasan kenapa Misha tidak dekat dengan keluarganya.
Pertama, karena kedua orang tuanya itu jarang di rumah. Ayahnya sering sekali keluar kota mau pun negeri untuk perjalanan bisnis. Misha sering kali tidak tahu keberadaannya ada di mana. Ia hanya akan tahu bahwa ayahnya sedang tidak di rumah, itu pun diberitahu oleh pelayan.
Ibunya pun begitu. Meskipun intensitas keluar kota atau pun keluar negeri ibunya tidak separah ayahnya, wanita yang dipanggilnya ‘Mami’ itu juga tidak kalah sibuk. Kegiatan yayasan, serta segala macam komunitas sosialita yang diikuti ibunya itu menyita hampir seluruh waktunya. Hingga sedikit sekali—hampir tidak ada—waktu untuk Misha.
Kedua, meskipun raga kedua orang tuanya itu di rumah, pikiran mereka belum tentu. Keduanya akan sibuk bertelepon entah dengan siapa, berkutat dengan ponsel masing-masing. Membuat Misha seolah-olah seperti tak kasat mata.
Seperti sekarang ini.
Jika ia menikah dengan Mars, maka mungkin seperti inilah hidupnya. Pernikahan tanpa cinta yang akan selalu mengorbankan pihak tak bersalah, anak-anak. Mengingat orang tua Misha juga menikah dari hasil perjodohan.
Setelah sekitar sepuluh menit menonton pertunjukan hidupnya lima tahun ke depan kalau ia benar-benar akan menikahi Mars, akhirnya ibunya menyimpan ponsel dan menatap Misha.
“Jadi, bagaimana hasil bicara kamu dengan Mars?” tanya Mami to the point.
Misha berdeham, berusaha untuk tidak terlihat goyah dengan memotong roti dan telur yang ada di hadapannya. “Misha belum bicara.”
“Hasil site visit kemarin, dia belum bilang juga? Bagaimana lokasinya? Menurut dia cocok?” kali ini Papi yang bersuara. Seperti dugaan Misha, Papi hanya akan bertanya sesuatu yang berhubungan dengan bisnisnya.
“Misha nggak tahu, Pi. Mars nggak bilang apa-apa.” jawab Misha jujur.
“Kan sudah Mami kasih tahu, Misha. Kalau Mars nggak bilang, kamu tanya dong. Kamu harus menyeimbangkan energinya Mars. Jadi pasangan harus seperti itu, saling melengkapi.” Mami menimpali panjang lebar.
Misha menghela napasnya, berusaha mengendalikan diri. Kenapa ia harus terus berusaha, sementara Mars saja enggan untuk mencoba?
“Misha udah coba, Mam. Marsnya aja yang nggak mau.”
“Nggak mau gimana? Kamu kali yang nggak mau?” tuding Mami.
Bibir Misha dikatupkannya rapat-rapat. Ia menatap kedua orang tuanya, “Misha emang.. nggak mau. Mars juga nggak mau. Kenapa harus dipaksa?”
Papi menatap Misha tajam, “Misha, pernikahan ini penting buat kamu.”
“Justru karena ini penting buat Misha, Misha nggak mau sembarangan.” balasnya, berusaha tegas walaupun suaranya hampir tidak terdengar.
“Sembarangan bagaimana maksud kamu? Mars itu calon terbaik yang Papi dan Mami sudah pilihkan untuk kamu, Misha.” Papi meletakkan pisau dan garpunya. “Papi nggak mau dengar pembicaraan ini lagi, kamu akan tetap menikahi Mars.”
Pria dengan perawakan tinggi besar itu memundurkan kursi, kemudian berlalu. Wanita di sampingnya, Mami, ikut menghela napas dan memijit pelipisnya.